Sudahkah Anda daftarkan blog Anda ke Blog Directory?



















































































artikel of designed with the beautiful airplane prints
artikel of the top manufacturers of airplane crib bedding
artikel of the airplane crib bedding sets
artikel of the massive expense of helicopters
artikel of particularly rewarding as almost every RC airplane modeller
artikel of model airplane setup to offer a professional service
artikel of inexpensive disposable 35mm camera to the bottom of your model aeroplane
artikel of strapping some sort of camera to the model airplane
artikel of RC model airplane pilot
artikel of Electric power for your model airplane
artikel for the hobby of RC model airplane flying
artikel of aerial photography and video using your RC model airplane
artikel of professional aviation before returning to aeromodelling
artikel of the military when they were flying in the very airplane
artikel of be careful about with your model airplane

Rujukan Artikel Karya Tulis Belum Diterbitkan

Untuk Karya yang Belum Diterbitkan (Unpublished Material)
Aturan rujukan yang berasal dari karya-tulis yang belum pernah diterbitkan lebih sulit penyusunannya, karena jenis karya semacam itu lebih beraneka-ragam serta cara mengenalnya berbeda-beda. Beberapa petunjuk:
(a) Cara menyusun nama pengarang artikel sama dengan cara pada karya yang sudah diterbitkan, seperti: nama-awal disusul dengan nama-akhir.
(b) Kalau karya-tulisnya mempunyai judul artikel, judul artikel ini diset dan disusun dengan huruf roman, tanpa tanda petik; ini memberikan pembedaan antara karya yang sudah diterbitkan dengan karya yang belum diterbitkan.
(c) Keterangan-keterangan lain dalam artikel disebutkan sebagaimana adanya, seperti nomor katalog dari karya yang belum diterbitkan (di Amerika dapat diminta kepada Library of Congress), atau nama pemilik karya tersebut, atau tanggal yang terdapat dalam karya itu, atau nama pengirim dan penerima dari karya-tulis itu (surat misalnya).

Masalah-masalah Khusus.
Semua peraturan yang disebutkan di atas adalah dalam keadaan dimana nama pengarang artikel atau editornya sudah diketahui. Persoalan akan timbul, apabila kita berhadapan dengan karya-tulis yang nama pengarang artikelnya tidak diketahui, misalnya penerbitan dari instansi pemerintah atau suatu karya anonim atau pseudonim. Kalau nama pengarang artikel tidak disebutkan, cukup disebutkan otoritas yang mensponsori publikasinya: Masyarakat Badui, Erasmus Huis (Jakarta, 1978). Referensi terhadap sesuatu yang berasal dari Al Quran : Surat Yasin :36.

Rujukan Kemudian.
Yang sudah diuraikan di atas ialah apa yang lazim disebut sebagai rujukan pertama. Selanjutnya masih kita mengenal apa yang disebut sebagai rujukan kemudian. Rujukan kemudian tidak perlu disusun selengkap rujukan pertama, tetapi masih harus tetap dapat memberi petunjuk kepada pembaca mengenai letak sumbernya dalam sesuatu artikel, yaitu sumber fakta, opini atau kata kutipan. Cara yang dianjurkan ialah dengan menggunakan bentuk singkatan. Misalnya rujukan pertama berbunyi 1 KC. vvheare, Government by Committee (Oxford, 1965), p. 102. Kalau di dalam artikel tidak ada rujukan lain yang berasal dari karya Wheare yang lain, maka rujukan kemudian dapat disusun seperti berikut : Wheare, p. 104 Akan tetapi apabila dalam satu publikasi terdapat dua rujukan atau lebih yang berasal dari seorang pengarang artikel, maka cara penyusunnya haruslah dibuat lain.

Biasanya dengan menyebutkan judul artikel dari tiap karya (boleh dengan singkatannya), dan juga disebutkan nama pengarang artikelnya. Cara lain ialah dengan menggunakan singkatan-singkatan dalam bahasa Latin. Walaupun penggunaannya sudah berkurang, dewasa ini masih ada saja yang mau menggunakannya. Di antaranya yang terpenting yang berarti dikutip di tempati digunakan untuk mengingatkan kembali ke sesuatu tempat tertentu dalam sesuatu karya tulis yang sebelumnya sudah pernah disebutkan, namun tidak langsung dikutip.

Dalam dokumen-dokumen formal, rujukan kepada sesuatu undang-undang, ordonansi ataupun peraturan, nama undang-undangnya harus disebutkan secara lengkap, tanpa perubahan kata, perubahan penitikan dan penataletakannya. Tetapi untuk dokumen yang informal, biasa digunakan judul artikel diskriptif dari undang-undang, ordonansi dan peraturan yang bersangkutan. Boleh menghilangkan tanggalnya, sedangkan penitikan dan penataletakan tidak perlu tepat benar seperti aslinya, seperti misalnya : Judul artikel resminya : Undang-undang Kebangkrutan tahun 1966. Judul artikel diskriptifnya Undang-undang Kebangkrutan.

Indeks dan Cara Menyusunnya
Menurut tradisi, pekerjaan menyusun indeks merupakan tugas dan tanggung jawab pengarang artikel, dan banyak penerbit dengan jelas mencantumkan masalah tugas dan tanggung jawab ini di dalam salah satu pasal dari perjanjian penerbitan.

Read More...... [+/-]

 

Copyright © 2010 by: www.IndexArticles.com

Proudly Powered by: Blogger
Designed by blogtemplate4u.com | Blogspot Tutorial